Lynx yang awalnya tidak sadar karena terlalu fokus pada sepatunya langsung mendongak. Begitu melihat Jelita berdiri tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, wajahnya ikut memerah. Dia segera memalingkan wajah ke arah lain, tangan sedikit terangkat seolah mencoba menutupi matanya. "Maaf, aku tidak tahu kamu ada di sini... Aku akan keluar sekarang," katanya terbata-bata, suaranya terdengar canggung.

Namun, meski Lynx buru-buru keluar, rasa malu dan kesal tetap membekas di hati Jelita. Dia menatap pintu yang ditutup Lynx dengan cepat, lalu mendesah panjang. "Dia bahkan tidak berani menatapku... Apakah aku begitu tidak menarik baginya?" batinnya dengan perasaan campur aduk.

Jelita segera mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa, tetapi bayangan wajah malu Lynx tetap terlintas di pikirannya. Di satu sisi, dia merasa lega karena Lynx menghormatinya. Namun, di sisi lain, dia merasa kesal karena sikap Lynx seolah menunjukkan bahwa dia tidak menganggapnya sebagai seorang wanita.

"Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?" gumamnya pelan sambil duduk di tepi tempat tidur, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Rasa frustrasi karena tekanan hidup dan hubungan yang aneh dengan Lynx membuat pikirannya semakin kusut.

***

Malam yang sunyi menyelimuti desa Lianhua, hanya suara jangkrik dan sesekali angin yang berdesir lembut di antara pepohonan. Namun, bayang-bayang gelap di sekitar rumah Xiao Lin membawa ancaman yang tidak diketahui oleh penghuninya. Empat orang berbaju hitam dengan penutup wajah tampak mendekati rumah dengan langkah ringan, menyatu dengan gelapnya malam. Mereka berhenti sejenak di sisi rumah, berbisik pelan.

"Apakah kita benar-benar harus menggunakan racun ini?" salah satu pria berbaju hitam bertanya dengan nada ragu.

"Ya," jawab suara dingin yang sangat dikenali sebagai Huo Jun. "Xiao Lin itu tidak normal. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk melumpuhkannya. Bahkan setelah dipukuli hingga terluka parah, tubuhnya selalu pulih seperti tidak ada apa-apa. Siang tadi, dia bahkan menghajar kita semua hanya dengan beberapa tendangan," katanya dengan penuh frustrasi.

"Lalu... apa sebenarnya penyebabnya menurutmu?" tanya pria lain dengan suara gemetar.

"Aku curiga dia seorang kultivator," jawab Huo Jun dengan yakin, nada suaranya penuh kepahitan."Itulah sebabnya tubuhnya sembuh dengan cepat. Aku sudah memikirkan ini sejak lama."

"Kultivator? Bukankah seseorang disebut kultivator jika dia memilih jalan berkultivasi dengan menyerap Qi ke dalam tubuhnya?" tanya yang lainnya, wajahnya menunjukkan kebingungan.

"Kalau begitu... kalau dia benar-benar seorang kultivator, bukankah kita mencari mati dengan mencoba melawannya?" tanya pria ketiga dengan nada takut. Ia mundur sedikit, matanya mengawasi sekeliling dengan waspada.

Huo Jun mendengus, "Dasar pengecut. Semua orang tahu sudah bertahun-tahun dia sering mengalami kehilangan ingatan. Ini adalah kesempatan terbaik untuk menyingkirkannya."

"Tapi bagaimana kalau dia cuma berpura-pura? Bagaimana kalau dia hanya menunggu untuk menyerang kita saat kita lengah?" desak pria yang tadi berbicara, ketakutan terlihat jelas di matanya.

"Dia tidak pura-pura!" Huo Jun membentak, matanya menyipit penuh amarah. "Kalau dia benar-benar kultivator, racun ini akan menjadi satu-satunya cara untuk memastikan dia tidak bangkit lagi. Aku sudah diperingatkan bahwa pil racun ini sangat kuat, karena dapat membunuh master foundation perunggu tingkat akhir.Aku harus berhati-hati memakainya, racun ini sangat mahal. Ayahku mendapatkannya dengan susah payah dari keluarganya di kota untuk berjaga-jaga."

Kemudian, senyum licik muncul di wajahnya. "Selain itu, istrinya... Yun Qing, akan menjadi milikku. Setelah semua ini selesai, dia tidak akan punya pilihan selain tunduk padaku."

"Tapi bagaimana kamu yakin, kekuatannya dibawah master foundation perunggu?" Kata yang lainnya masih merasa khawatir.

"Apakah kamu bodoh? Jika dia master foundation, apakah mungkin dia mau tinggal didesa kita yang terkenal sangat minim energi spiritual? Aku yakin tingkatannya tidak akan melebihi forging Qi tingkat tiga. Apa kamu lupa? Keluarga besarku di kota banyak yang menjadi kultivator, bahkan kakak sepupuku sudah bertahun-tahun menjadi murid inti sekte Air Murni." Katanya dengan kesal.

Mendengar itu, ketiga pria berbaju hitam saling bertukar pandang, keraguan mereka perlahan memudar. Selain itu mereka tidak ingin menghadapi murka Huo Jun. Akhirnya, dengan enggan, mereka mengangguk setuju.

Tanpa membuang waktu, salah satu dari mereka mengeluarkan dupa kecil dan menyalakannya. Aroma aneh mulai menyebar di udara, perlahan masuk melalui celah-celah rumah.

Di dalam rumah, Lynx sedang duduk di sudut kamar, tangannya mencengkeram kepalanya erat-erat. Napasnya berat, wajahnya terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa. Jelita duduk di sampingnya, tangannya yang halus dengan hati-hati memegang sebuah mangkuk kecil berisi ramuan herbal. Setiap kali tubuhnya menghasilkan energi sakti dengan tingkat tertentu, maka segel yang ada ditubuhnya akan aktif untuk mengunci kembali kekuatan dan ingatannya. Proses itu akan terus berulang hingga segel terbuka. Awalnya, Lynx membuat segel itu hanya untuk sementara melewati portal dimensi dan melepasnya setelah berhasil menyeberang. Namun badai energi di portal dimensi memisahkan dia dengan Leena, satu-satunya orang yang mengetahui cara melepaskan segel itu.

"Kepala suku, apa yang harus kulakukan untuk menyembuhkanmu?Setiap hari, kamu selalu mengalami hal ini." batin Jelita, matanya berkaca-kaca melihat penderitaan pria yang dicintainya. Dia merasa tak berdaya, namun bertekad untuk menemukan cara. "Aku harus mencari uang lebih banyak lagi, aku harus membawamu ke alchemist terkenal. Katanya, mereka bisa membuat pil yang mampu menyembuhkan penyakit apa pun..." pikirnya penuh tekad.

Asap bius yang terus masuk ke ruangan mulai memenuhi udara, membuat kepala Jelita terasa berat. Sementara itu,bersamaan dengan asap yang menyebar kedalam ruangan, Lynx, yang kekuatan dan ingatannya sudah tersegel, kembali menjadi manusia biasa. Tubuhnya jatuh ke lantai terkena efek asap bius, sementara Jelita, yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, merasakan matanya semakin berat hingga akhirnya tertidur di samping Lynx.

Melihat dari luar, salah satu pria berbaju hitam tersenyum puas melalui celah jendela. "Mereka sudah pingsan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," bisiknya pada Huo Jun, yang hanya mengangguk puas.

"Masuklah," perintah Huo Jun dengan nada dingin sambil memberikan sebuah botol kepadanya. "Lakukan apa yang harus dilakukan."

Tanpa suara, mereka menyelinap masuk ke dalam rumah untuk melancarkan rencana busuk mereka.

Mereka membuka pintu dengan perlahan dan masuk. Salah satu dari mereka segera mendekati Lynx dan memasukkan pil racun ke mulutnya, memaksanya menelan. Yang lain mengangkat tubuh Jelita yang tidak sadarkan diri, membawanya keluar dengan hati-hati.

"Pastikan dia benar-benar tidak akan bangkit lagi," ujar Huo Jun dengan nada penuh kepuasan, matanya menatap tubuh Lynx yang tergeletak tak berdaya di lantai.

Lynx tampak mulai menunjukkan gejala akibat racun yang diberikan. Wajahnya memucat, bibirnya bergetar, dan busa bercampur darah segar keluar dari mulutnya. Huo Jun tersenyum sinis, merasa yakin bahwa kali ini Lynx tidak akan selamat.

"Lihat itu! Racun ini benar-benar bekerja. Dia bahkan tidak mampu bertahan lama. Kita harus pergi sebelum seseorang menemukan kita di sini," katanya dengan semangat, pikirannya penuh dengan bayangan kemenangan. Malam ini, dia sudah membayangkan akan memiliki Yun Qing sepenuhnya tanpa gangguan dari siapapun.

Namun, tak lama setelah Huo Jun dan anak buahnya pergi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Darah Lynx yang mengalir dari mulutnya perlahan menetes ke liontin batu yang tergantung di lehernya. Begitu darah menyentuh liontin itu, energi besar yang selama ini tersegel dalam tubuh Lynx mendadak terlepas dengan kekuatan yang tak tertahankan.

Ledakan energi menghancurkan rumah tempat mereka berada, berserakan menjadi puing-puing. Dalam sekejap, dunia kultivasi terguncang hebat. Tanah bergetar, angin bertiup dengan ganas, dan langit yang cerah berubah menjadi gelap pekat. Getaran ini dirasakan dalam radius ribuan kilometer, membuat para kultivator dari berbagai penjuru terkejut dan bingung.

"Apa ini? Kekuatan macam apa yang baru saja terbangun?" salah satu kultivator immortal berbisik dengan wajah penuh kekhawatiran.

Huo Jun dan kawan-kawannya juga merasakan dampaknya, sehingga mereka berhenti karena merasakan getaran gempa yang dahsyat dan rumah-rumah disekitar mereka terlihat bergoyang.

